Menghadapi orang-orang ngeyel di WhatsApp tentang COVID-19

Siang ini di grup WA yang isinya anak-anak santri lagi pada debat perihal kegiatan social distancing, yang mengakibatkan terjadi pembatasan aktivitas peribadatan di masjid atau pun tempat ibadah yang lain.

Kok sholat dilarang?
Kok ngga diadain sholat?
Ngaji juga dilarang?
Mereka lebih takut mati ketimbang takut sama Allah.

Kalau dicermati, sebenernya ngga ada kok yang ngelarang buat sholat atau pun beribadah yang lain. Adanya, pembatasan terhadap tempat dan pelaksanaan ibadahnya.

Slow gengs, ga ada yang membatasi hak kalian.


Oh iya, mungkin aja, sepertinya ya, orang-orang ini belum tahu kejadiaan yang di korea. Karena seorang suspect COVID-19 nekat ke gereja akhirnya orang segereja ketularan dan nyebar ke masyarakat lain.

Hal kecil yang dampaknya bahaya banget buat semua orang.

Social distancing penting.

Image result for social distancing

Dibilangin untuk membatasi buat berinteraksi dan berkumpul dengan orang lain malah ngeles dan lagi-lagi nyalahi orang lain (terutama pemerintah).

Ya, aku juga nyadar sikap pemerintah emang kurang sat-set dari awal. Tapi, ayolah kerjasama buat nyegah dampak yang lebih berbahaya lagi.

Ibaratnya kita udah dikasih formula yang udah keuji buat menekan jumlah korban dan kematian akibat virus ini. Tinggal nerapin aja, tapi kitanya malah ngeyel dan ga percaya.

Dan ngomong-ngomong soal takut kematian.

Pada dasarnya semua manusia memang takut pada kematian. Jadi ya wajar saja, kalau misal takut adanya wabah luar biasa seperti Corona saat ini.

Takut kematian juga bukan berati dia gak takut sama Allah.

Manusiawi.

Kalau Dok Des bilang sih ya, suatu kelompok atau spesies memang sangat khawatir dan takut, jika terjadi kepunahan terhadap keberlangsungan spesiesnya.

Ketakutan ini alamiah. Makanya manusia atau spesies manapun ada kecenderungan untuk mempertahankan diri dari ganguan yang mengancam spesiesnya.

Dalam konteks sekarang ini. Ancaman bagi spesies manusia adalah virus COVID-19, respon kita untuk mempertahankan diri seperti apa? Adanya himbauan menggunakan masker, membatasi kegiatan kumpul-kumpul bareng, melakukan social distancing. Ini adalah respon kita.


Kalau misal kalian ngga takut sama kematian, setidaknya pikirkan keluarga kalian juga. Misal jika kalian sakit, pasti bakal repotkan. Keluar uang buat berobat bahkan ada kemungkinan menulari anggota keluarga yang lain.

Pikirin juga masalah sarana prasarana kesehatan kita belum se-advance negara maju. Sekali sakit barengan semuanya, kapasitas rumah sakit ga bakal kuat nampung. Akibatnya? ya jumlah korbannya bakal makin banyak. Makanya manut, lakukan sosial distancing.

Ingat ya mencegah bencana yang lebih besar terjadi lebih diutamakan daripada mengambil suatu kebermanfaatan.

Tetap tenang dan jangan egois buat mentingin diri sendiri :’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *