[Review] Novel Pareidolia : Ketika Hidup Hanyalah Sebuah Permainan

Novel Pareidolia membuat saya merenungkan kembali: jangan-jangan kehidupan yang kita lalui saat ini adalah sebuah permainan belaka.

Buku ini dibeli suami saya akhir Agustus lalu, dan berhubung banyak yang memberikan ulasan menarik pada buku ini, saya memutuskan untuk juga membacanya.

Novel ini juga menjadi buku pertama Tere Liye yang saya baca setelah sekian lama. Terakhir kali saya membaca karya beliau ketika di tahun pertama saya mulai bekerja, sekitar tahun 2020.

Tentu saja sepanjang terakhir mengikuti, novel yang sudah beliau terbitkan sudah banyak sekali. Novel Pareidolia ini salah satu yang beliau tulis di tahun 2026 dan berikut ulasan setelah membaca novel ini.

⚠️ Warning, this content may contain spoilers!

Sinopsis Novel Pareidolia

Novel Pareidolia menceritakan tentang kehidupan bagus, seorang laki-laki yang sejak kecil selalu hidup dalam kemiskinan.

Kemiskinan selalu menghantui kehidupan Bagus. Bahkan ketika ia memutuskan untuk merantau ke ibu kota untuk mengubah nasib, dia tidak benar-benar lepas dari jeratan kemiskinan sekeras apapun dia berusaha.

Namun, keadaan tersebut tidak mengubah kebaikan yang ia punya. Bagus hidup dengan penuh syukur, ngga pernah neko-neko, dan keluarga kecilnya juga harmonis ditengah kondisi yang serba kekurangan.

Bagus dan kemiskinan yang dia alami

Bahkan ketika dia kehilangan pekerjaannya, ditambah anak bungsunya membutuhkan biaya untuk berobat. Bagus tetap mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang lain.

Mungkin, alam semesta melihat kegigihan dan kebaikan bagus.

Ketika nyaris tertabrak kereta api saat menyelamatkan seseorang, Bagus justru mendapatkan sebuah kesempatan kedua.

Kesempatan tersebut hadir dalam bentuk sistem misterius yang menyerupai layar komputer. Sistem itu memberikan berbagai arahan, misi, dan kemudahan yang dapat membantunya menjalani kehidupan.

Tentu saja, Bagus tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Perlahan, ia mulai menaiki tangga kesuksesan. Masalah finansial yang selama ini menghantuinya akhirnya teratasi. Kesehatan anaknya membaik, dan hanya dalam beberapa bulan, Bagus berhasil menjadi orang yang sangat kaya.

See also  Review Sugoi Ramen: Ramen Halal dengan Harga Mahasiswa

Namun, kesuksesan tersebut ternyata membawa perubahan besar dalam dirinya.

Semakin tinggi pencapaiannya, bagus malah semakin tersesat dari nilai-nilai yang dulu ia pengang. Sosok sederhana, penuh syukur, dan baik hati itu perlahan menghilang. Bagus telah berubah menjadi seseorang yang bahkan mungkin tidak akan dikenali oleh dirinya sendiri di masa lalu.

Rupanya ada kesalahan fatal yang bagus lakukan. Kesalahan itu yang akhirnya mengantarkannya pada kematian.

Solo Leveling versi kehidupan nyata

Membaca buku ini mengingatkan saya dengan serial anime Solo Leveling.

Konsepnya sama. Menggunakan sistem seperti dalam game, kemudian ada tampilan statistik tokoh dan level kemampuan, ditambah dengan adanya misi-misi yang harus dikerjakan.

Konsep ini sudah sangat lumrah digunakan ya, terutama dalam manhwa, novel, atau anime bergenre system fantasy. Karena Solo Leveling merupakan salah satu yang paling populer, reaksi pertama ketika membacanya adalah “Lho, kok mirip Solo Leveling?”

Sistem pareidolia

Tapi memangnya keduanya semirip itu?
Ya tentu saja tidak.

Plot ceritanya beda, masalah dan tujuan ceritanya juga beda. Menurut saya Pareidolia ini bisa dibilang Solo Leveling versi kehidupan sehari-hari, dengan permasalahan yang lebih relate dengan banyak orang.

Ketika dalam Solo Leveling, Sung Jinwoo berusaha meningkatkan kekuatannya untuk menghadapi musuh-musuh yang mengancam dirinya, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya.

Sementara dalam Pareidolia, Bagus meningkatkan kemampuannya untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang ia sayangi.

Keduanya sama-sama berusaha menjadi lebih kuat. Hanya saja, bentuk kekuatan yang mereka kejar berbeda. Yang satu mengejar kekuatan untuk bertarung, sedangkan yang lain mengejar kemampuan untuk bertahan dan berhasil dalam kehidupan.

Sebuah game bernama kehidupan

Setelah membaca novel ini, saya jadi merenungkan bahwa kehidupan yang sedang kita jalani sebenarnya juga bisa diibaratkan sebagai sebuah permainan.

Ada sistem-sistem yang membentuk kehidupan, sementara tokoh utamanya adalah diri kita sendiri. Setiap keputusan yang kita ambil akan membawa konsekuensi dan memengaruhi bagaimana cerita kehidupan kita berjalan.

See also  [Review] Buku Empowered ME (Mother Empowers), Puty Puar

Hanya saja, seperti permainan pada umumnya, kehidupan juga memiliki aturan.

Ada banyak hal dalam diri kita yang bisa ditingkatkan, diperbaiki, atau diubah. Namun, ada pula hal-hal yang berada di luar kendali kita. Sesuatu yang sudah menjadi bagian dari takdir, bahkan sejak kita dilahirkan hingga kematian datang.

sampul belakang novel pareidolia

Lantas, bagaimana caranya agar permainan bernama kehidupan ini bisa berjalan dengan baik?

Tentu saja dengan memahami dan mengikuti aturannya. Bukan malah seperti Bagus, yang manual book-nya saja nggak sempat dibaca. XD

Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin sebagian besar dari kita sebenarnya juga tidak jauh berbeda dari Bagus.

Kita terlalu sibuk menjalani permainan. Terlalu fokus mengejar uang, kekuasaan, kepandaian, pencapaian, dan segala hal yang dianggap sebagai ukuran kesuksesan. Pokoknya yang penting terus berjalan, naik level, dan menikmati hasilnya.

Sementara pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih mendasar justru sering kita abaikan.

Kenapa sebenarnya kita dilahirkan ke dunia ini? Apa yang seharusnya kita kejar? Dan apa tujuan akhir dari semua yang sedang kita perjuangkan? Ah, masalah begituan pikir nanti saja. 🙁

Di sinilah saya mulai memahami mengapa novel ini diberi judul Pareidolia.

Secara psikologis, pareidolia adalah fenomena ketika manusia melihat pola atau makna tertentu pada sesuatu yang sebenarnya ambigu atau acak. Misalnya, melihat bentuk wajah pada awan atau benda mati.

Namun, dalam konteks novel ini, saya memaknainya sebagai metafora tentang bagaimana manusia sering kali terjebak dalam persepsinya sendiri.

Kita menganggap kekayaan, kekuasaan, dan kesuksesan sebagai gambaran kebahagiaan yang sesungguhnya. Padahal, bisa jadi apa yang kita lihat sebagai tujuan hidup hanyalah ilusi yang membuat kita lupa pada hal-hal yang lebih penting.

Kita begitu sibuk mengejar sesuatu yang tampak berharga, sampai lupa mempertanyakan apakah sesuatu itu benar-benar memiliki nilai sebesar yang kita bayangkan.

See also  [Review] Buku Into The Beneath, Misi Penyelamatan Laut dan Rahasia Ilmuwan Gila

Uang bermata dua

Novel ini juga membuat saya menyadari betapa besarnya pengaruh uang dalam mengubah sifat seseorang.

Tidak bisa dimungkiri, uang memang membuat hidup menjadi lebih mudah. Hampir segala sesuatu membutuhkan uang. Namun, di sisi lain, uang juga bisa membuat manusia semakin rakus dan rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya.

Seperti Bagus, yang awalnya hanya ingin memperbaiki kehidupan keluarganya, tetapi perlahan menjadi semakin terobsesi dengan kekayaan dan kekuasaan.

Manusia memang terkadang mudah lupa ketika diberikan sedikit kekuasaan. Lupa kepada Yang Maha Berkuasa dan Yang Maha Bijaksana. Lupa bahwa segala sesuatu yang dimiliki di dunia ini hanyalah titipan, permainan, dan ujian semata.

kutipan pareidolia tere liye

Di sinilah pentingnya kebijaksanaan dalam mengelola uang dan kekuasaan.

Menariknya, di tengah berbagai kemampuan Bagus yang terus meningkat, nilai kebijaksanaannya justru tidak berkembang sama sekali. Angkanya tetap berada di angka 30.

Bagus semakin kaya, pintar, dan berkuasa, tetapi tidak semakin bijaksana dalam memanfaatkan semua yang dimilikinya. Dan pada akhirnya, naik level dalam kehidupan tidak selalu berarti kita menjadi manusia yang lebih baik.

quotes novel pareidolia tere liye

Setelah menyelesaikan novel ini, hanya satu yang saya harapkan: Gendhis, istri bagus, memang deserve better. Beruntungnya dia lebih bijak dan memilih meninggalkan bagus.

Dan ini mungkin juga ironi terbesar untuk Bagus, yang awalnya ingin membahagiakan keluarhanya malah berakhir mengecewakan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *