Hutan mangrove di Raja Ampat tidak hanya berperan untuk menjaga lingkungan dan keseimbangan ekosisten, tetapi juga menyediakan sumber pangan serta penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya.
Hal inilah yang menjadi salah satu pelajaran menarik yang saya dapatkan dari Gathering Eco Blogger Squad. Tema gathering kali ini tentang bagaimana masyarakat di Raja Ampat menjaga sekaligus mengelola hutan mangrove berkelanjutan.
Beruntungnya, saya bisa belajar langsung dengan kak Daniel Kbarek dan Wawiyai Stave yang langsung dengan berbagai upaya pelestarian di sana.

Hutan mangrove di Raja Ampat
Raja Ampat adalah salah satu destinasi wisata alam yang sangat ingin saya kunjungi. Alasannya tentu saja karena kawasan Raja Ampat memang menjadi top tier keindahan alam dan keanekaragaman hayati laut di Indonesia bahkan dunia.
Sayangnya, dibalik pesatnya pekembangan pariwisata, kawasan ini juga menghadapi berbagai tekanan. Salah satunya adalah penebangan hutan mangrove untuk mendukung pembangunan fasilitas wisata, entah untuk bahan bangunan atau dibuka untuk penggunaan lahan lainnya.
Akibatnya, luasan hutan mangrove di Raja Ampat semakin menipis. Bahkan, berdasarkan penyampaian kak Stave, pada tahun 2019 kerusakan lahannya mencapai 133 Ha atau 57% dari total luasan hutan mangrove di kawasan tersebut.
Padahal, hutan mangrove memiliki peran sangat penting untuk melindungi kawasan pesisir dari abrasi, menjaga kualitas air, sekaligus menjadi habitat berbagi biota laut.


Kerusakan hutan mangrove pada akhirnya bukan hanya menjadi persoalan lingkungan saja. Dampak juga dirasakanlangsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya, salah satunya masyarakat di Kampung Friwen.
Bagi mereka, hutan mangrove bukan sekedar kumpulan pepohonan mangrove untuk menahan ombak. Hutan mangrove adalah bagian dari sumber kehdupan dan penghidupan yang telah diwariskan secara turun temurun.
Karena itu, menjaga hutan mangrove berarti juga menjaga keberlanjutan kehidupan dari masyarakat di sekitarnya.
Salah satu upayanya melalui Mangrove Doredor.

Program ini mendorong mayarakat untuk terlibat langsung dalam menjaga dan memulihkan kawasan mangrove melalui berbagai kegiatan, mulai dari:
- pemetaan dan identifikasi kondisi serta sebaran mangrove;
- program restorasi hutan mangrove;
- sosialisasi pelestarian dan pengembangan program adopsi mangrove;
- hingga pelatihan pengolahan hasil mangrove.
Pemberdayaan Perempuan untuk Jaga Mangrove
Dari kegiatan di atas yang paling menarik perhatian saya adalah terkait pengolahan hasil mangrove.
Karena kalau bicara soal pelestarian, tentu saja tidak cukup hanya dengan penanaman kembali pohonnya, tetapi juga bagaimana masyarakat bisa tetap memperoleh manfaat dari hutan tanpa harus merusaknya.
Salah sayu pendekatan yang ambil adalah memanfaatkan hasil mangrove non kayu sebagai produk pangan dan produk bernilai ekonomi. Bagian buah, bunga, dan hasil mangrove lainnya dapat diolah menjadi berbagai macam produk.
Pengolahan ini didukung oleh TAF bersama PKPRA yang kemudian melibatkan masyarakat, terutama perempuan dan anak muda di Raja Ampat.

Keterkaitan perempuan dengan kawasan pesisir di Raja Ampat memang sangat besar.
Sekitar 90% perempuan menggantungkan kehidupannya pada sumber daya pesisir. Mereka memanfaatkan hutan mangrove sebagai kebun, mencari ikan dan kerang, hingga untuk memenhi kebutuhan pangan keluarga.
Karena itu, keterlibatan perempan menjadi sangat penting untuk menjaga ekosistem hutan mangrove.
Salah satu produk yang dikembangkan adalah tepung lindur.

Tepung ini berasal dari buah mangrove bruguiera gymnorrhiza yang telah matang dan jatuh dari pohon. Buahnya kemudian diproses secara tradisonal, sebelum dikeringkan dan digiling halus. Tepung lindur ini dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan seperti kue, biskuit, keripik, dan sebagainya.
Selain tepung lindur, produk olahan mangrove lainnya adalah teh dan madu mangrove. Selain dikonsumsi untuk pribadi, produk-produk ini juga dijual dan dipasarkan.
Sehingga, ketika masyarakat Raja Ampat menjaga hutan mangrove, mereka sebenarnya juga sedang menjaga sumber pangan, tradisi, serta sebagai sumber penghasilan.
Tanaman tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga sumber pangan
Cerita tentang mangrove di Raja Ampat membuat saya menyadari bahwa tanaman bisa memiliki banyak peran, membuat saya melihat kembali tanaman yang tumbuh di sekitar saya tetapi terkadang terabaikan.
Salah satunya adalah bambu.
Di pekarangan rumah saya, yang kebetulan berdekatan dengan aliran sungai, bambu menjadi tanaman yang wajib untuk ditanam. Sistem perakarannya yang kuat mampu menahan tanah dan perkembang biakan yang cepat, bambu sangat cocok untuk penahan erosi.

Namun, seperti mangrove, manfaat bambu tidak hanya berhenti di sana.
Batangnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan bangunan, kerajinan, hingga peralatan rumah tangga. Sementara itu, tunas muda atau rebungnya juga bisa menjadi sumber pangan.
Rebung bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan. Ibu saya biasanya mengolah dengan cara di sayur dengan santai kelapa seperti gulai dan lodeh, atau hanya dioseng-oseng saja. Yang jelas semuanya enak.
Beberapa daerah lain bahkan mengolahnya rebung menjadi makanan khas, contohnya seperti lumpia semarang.
Dari mangrove di Raja Ampat hingga bambu yang tumbuh di kampung saya, tumbuhan ternyata tidak hanya menjaga lingkungan tempat kita hidup, tetapi juga memberikan pangan dan kehidupan.


