Bulan ini saya sedang menambah beberapa referensi buku kalkulus untuk perkuliahan Matematika Teknik di kampus. Tebak, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan?
Sekitar 500.000++ rupiah, hampir sejuta.
Alhamdulillahnya masih dicover kampus sebagai penunjang pembelajaran.
Jujur saya agak heran, kenapa bisa semahal itu?
Kalau saya tanya ChatGPT, alasannya kurang lebih seperti ini:
- Pasarnya terbatas.
Pembaca buku referensi sangat spesifik, sehingga jumlah pembeli tidak banyak. Mau tidak mau harga dinaikkan agar penerbit tetap bisa menutup biaya penulisan, produksi, hingga distribusi. - Materinya harus selalu up to date.
Buku referensi, terutama yang topik yang sedang berkembang, dituntut mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan: perubahan kurikulum, hasil riset terbaru, hingga revisi berdasarkan masukan akademis. Tentu ini akan memerluka waktu dan biaya tambahan. - Penerbit berkualitas tidak banyak.
Sebenarnya penerbit buku pelajaran itu banyak, tetapi hanya beberapa yang benar-benar diakui worth dan trusted untuk buku referensi perkuliahan. Pembaca pun akhirnya punya preferensi khusus terhadap penerbit tertentu.
Semua alasan ini menurut saya masuk akal.
Awalnya saya mencoba mencari opsi lain dari penulis Indonesia. Harganya memang hampir setengah dan jauh lebih murah dari buku terbitan luar (yang diterjemahkan), tetapi isinya masih kurang lengkap. Ada juga buku yang penjelasannya sangat singkat, hampir seperti materi PPT yang saya buat sendiri. T_T
Akhirnya saya beralih ke buku terbitan luar yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia: Kalkulus Jilid 1 dan 2 karya Varberg, Purcell, dan Rigdon — total harganya hampir Rp600.000 untuk dua buku, namun isinya terasa jauh lebih worth it.
Selain itu, saya juga membeli Mathematical Methods in the Physical Sciences karya Mary L. Boas. Yang ini saya dapat murah karena non-ori; yang ori sangat sulit dicari baik terjemahan atau versi Inggrisnya.
Sebenarnya kondisi seperti ini tidak hanya terjadi pada buku referensi perkuliahan. Buku-buku pelajaran lain untuk jenjang sekolah SD-SMA pun begitu: harganya cenderung mahal. Dan masalahnya bukan hanya mahal, tetapi juga tidak bisa dilungsurkan atau diwariskan ke orang berikutnya karena tiap tahun harus ganti edisi.
Capek juga ya kalau begitu terus.


