Review Buku The Richest Man in Babylon, Belajar Keuangan dari Orang Terkaya di Babilonia

Buku ini tidak hanya mengajarkan bagaimana cara kita mencari dan mengelola uang, tetapi juga mengajarkan cara menyelesaikan masalah keuangan.

Ini adalah The Richest Man in Babylon, buku pertama yang saya baca di awal tahun 2026.

Buku ini sudah lama terbit, kurang lebih 100 tahun lalu di tahun 1926 dan karena sudah lama sekali, suami saya menyarankan untuk membaca bahasa versi bahasa Indonesia saja dibanding bahasa Inggris yang agak klasik, sehingga kurang mudah diikuti.

⚠️ Warning, this content may contain spoilers!

The Richest Man in Babylon

Dibanding dengan buku keuangan, menurut saya buku ini lebih mirip dengan buku cerita atau dongeng tentang cerita kehidupan orang-orang di daerah Babilonia kuno.

Plotnya adalah seperti ini.

Di zaman kejayaannya, orang-orang Babilonia terkenal dengan negara yang sangat makmur dan sangat maju. Padahal kalau dilihat dari daerahnya, negeri Babilonia di kelilingi oleh gurun dan tidak ada ladang pertanian subur seperti di negara tropis.

Namun, di tengah kehidupan yang nyaman tersebut, ternyata ada orang-orang yang tidak beruntung. Mereka bekerja dengan giat untuk majikan-majika, tetapi dibandingkan dengan majikan hidup mereka tidak berubah sama sekali. Tetap miskin dan bergantung pada orang lain. Kehidupan inilah yang dialami oleh Bansir.

Bansir sangat frustasi dengan kehidupannya, ia ingin segera pergi dari lingkaran itu. Suatu ketika ia memberanikan diri bertanya pada Aarkad, orang terkaya di Babilonia saat itu. Dan beruntungnya Aarkad mau berbaik hati membagikan rahasia dari segala kekayaan yang ia punya.

Mendengarkan Nasehat Aarkad agar keuangan berjalan lancar

Nasehat-nasehat keuangan dari Aarkad dimulai ketikan Bansir mulai bertanya:

“Aarkad, aku sudah bekerja keras siang malam tanpa lelah, tetapi uang yang aku dapatkan lenyap begitu saja. Hidupku juga sangan pas-pasan. Berbeda dengan orang lain dan dirimu yang hidupnya berkecukupan “.

Nampaknya, kehidupan Bansir saat itu mirip kebanyakan orang di zaman sekarang. Bekerja tetapi gajinya mepet UMR yang hanya cukup membuat hidup XD

See also  Review : Sister Fillah, You'll Never be Alone Buku dari Kalis Mardiasih

Dan jawaban dari Aarkad untuk menjadi orang yang berkecukupan meskipun dengan gaji pa-spasan. Menurutnya ada 7 langkah yang dapat dilakukan:

  1. Mulailah menggemukan pundi-pundimu.
    Sisihkan sebagian gajimu untuk dirimu sendiri, minimal 10% dari gaji kita. Ingat 10% ini disisihkan untuk disimpan, bukan digunakan untuk membeli kebutuhan hidup.
  2. Kendalikan pengeluaranmu.
    Atur semua pengeluran yang kamu punya. Mulailah dengan mendata semua pengeluaran yang kita lakukan setiap bulan, kemudian atur alokasi pengeluaran yang bersifat perlu dan mana yang bisa di pangkas.
  3. Lipat gandakan emas kalian.
    Jangan hanya menyimpan emas atau uang. Investasikan agar menghasilkan keuntungan. Hasil investasi sebaiknya diinvestasikan kembali sehingga menjadi berlipat ganda.
  4. Jaga harta kalian agar tidak lenyap.
    Investasi berguna untuk memperbanyak uang yang kita punya. Cara berinvestasi bisa dengan banyak cara bisa dengan menggunakan emas, saham, atau usaha. alam berinvestasi lakukan dengan bijak, jangan tergiur dengan keuntungan tetapi kita tidak peduli dengan risiko dan keamanan.
  5. Jadikan tempat tinggal sebagai investasi yang menguntungkan.
    Arkad menganjurkan kepemilikan rumah agar biaya tempat tinggal memberikan manfaat jangka panjang. Untuk poin satu ini, memang benar tempat tinggal bisa menjadi aset dan investasi yang baik, tapi dalam konteks sekarang menjadikan rumah sebagai investasi perlu dipertimbangkan kembali.
  6. Buatlah pendapatan di masa depan terjamin.
    Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan berapa banyak biaya yang kita butuhkan di masa depan. Maka dari itu mulailah siapkan dana darurat dan aset yang dapat memberikan penghasilan ketika sudah tidak produktif, sekaligus bisa memberikan perlindungan untuk keluarga,
  7. Tingkatkan kemapuan untuk mendapatkan pendapatkan.
    Cara termudah untuk mendapatkan lebih banyak uang atau pemasukan adalah dengan memperlebar pendapatan. Kita bisa mulai melakukannya dengan menambah skill, membuat lebih banyak variasi usaha, memperbesar ekspansi, dsb. Agar pendapatan yang kita terima lebih banyak.
See also  Pantai Sadranan Jogja: Pantai Pasir Putih & Dekat Pantai Lainnya

Sejujurnya, setelah membaca nasehat Arkad ini sangat menyadarkan saya untuk memperbaiki bagaimana saya mengelola keuangan. Sekaligus memberi tujuan untuk terus mencari uang—biar makin bertambah pundi-pundi uangnya. Aaaminn~

Hidup harus terus berjalan, meskipun harus menyicil hutang

Selain tips keuangan dari Aarkad, ada satu bagian lain yang menarik bagi saya dalam buku ini.

Jika kebanyakan buku keuangan menjalaskan bagimana cara menambah dan mengelola uang, buku ini menambahkan pembahasan lainnya yang kurang banyak dibahas, yaitu bagaimana cara mengelola uang saat kita terjerat dalam masalah keuangan.

Dalam kondisi terlilit hutang tentu saja membuat kondisi keuangan dan mental menjadi penuh tekanan, bahkan fisik menjadi sangat terganggu. Buku ini mencoba memberikan solusi dari segala kekalutan tersebut.

Hal ini diulas pada bagian Lempengan Batu Tulis dari Babilonia. Di mana ada lempengan-lempengan batu yang di dalamnya tertulis kisah hidup seorang bernama Dabasir, yang tengah itu dilanda hutang piutang dan menyebabkan keluarganya hancur.

Dabasir menyesali semua perbuatannya dan berusaha memperbaiki semuanya, dan dengan dengan tekat yang kuat dia melakukan 3 hal ini:

  1. Pertama, dabasir ingin kehidupan di masa depannya berhasil. Ia berkomitmen menyisihkan 10% dari pendapatannya untuk disimpan.
  2. Agar hubungan dia dengan istrinya membaik, ia mengalokasikan 70% pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan pokok dan operasionalnya sehari-hari.
  3. Tak lupa dia juga fokus untuk melunasi hutannya. 20% dari hasil penghasilannya digunakan untuk mencicil hutangnya.

Memang sebenarnya ada yang agak janggal di sini. Dia banyak hutang tapi kenapa mayoritas penghasilannya malah digunakan untuk kebutuhan hidup, bahkan dia masih sempat-sempatnya menabung.

Alasannya begini.

Sebagai manusia Dabasir berkomitmen tinggi untuk menyelesaikan semua kewajibannya. Pembagian ini membuatnya dapat memperbaiki kondisi keuangan tanpa mengabaikan kebutuhan keluarga maupun kewajibannya kepada orang lain.

See also  Satu Tahun pakai Aplikasi Bibit

Dia mengakui semua kesalahannya kepada rentenir, meskipun semua hutang tersebut harus dibayar dalam waktu yang sangat lama. Perihal kebutuhan keluarganya, tentu saja harus terpenuhi agar istri dan keluarganya menaruh kepercayaan kembali padanya, serta hidup dalam kondisi yang layak.

Sementara itu, dengan menyimpan 10% dari pendapatannya, Dabasir mulai membangun kembali rasa percaya diri dan harga dirinya. Ia tidak lagi merasa bahwa seluruh hasil kerja kerasnya hanya menjadi milik para pemberi pinjaman. Sebagian dari penghasilannya tetap menjadi miliknya dan dapat digunakan untuk membangun kehidupan yang lebih baik pada masa depan.

Dan pada akhirnya berkat ketekunan serta komitmennya, semua masalah tersebut terselesaikan dengan baik. Intinya adalah kalau punya hutang harus dilunasi tanpa mengorbankan diri sendiri maupun orang lain ya.


Jadi, begitu saja review buku The Richest Man in Babylon, semoga ilmu-ilmu dari penduduk Babilonia bisa membantu kita mengelola keuangan dengan lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *