Dana darurat first

Minggu lalu, hari-hari saya sepertinya di isi dengan penuh kepeningan.

Baru sehari di Jogja, langsung dapat kabar kalau bapak harus dilarikan ke rumah sakit dan malamnya muncul pemberitahuan harus segera dilakukan operasi.

Tidak terduga.

Lha wong gejala awalnya mirip dengan masuk angin (?). Badan pegal-pegal, perut kembung, muntah, tidak nafsu makan, dan memang beberapa hari sebelumnya bapak juga mengalami diare.

Seperti biasanya, upaya yang dilakukan oleh orang rumah adalah manggil tukang duleg (memijat bagian perut agar lemas dan tidak kaku) dan tukang suwok (memberikan doa-doa).

Namun apa daya ternyata tidak ada perubahan–ya jelas, tidak ada penanganan medis juga). Sementara kondisi bapak makin melemah, akhirnya dipanggil dokter dekat rumah.

“Bu, ini kondisi bapak sudah lemah karena kurangan cairan tubuh. Lebih baik dibawa ke Puskesmas. Kalau di sana bisa diberi perawatan yang lebih intensif, bisa di inpus juga” kata mba Wandan.

Kemudian dilarikan ke puskesmas, tapi setelah 2 hari di sana tidak ada perbahan akhinya dilarikan ke rumah sakit.


Bapak ternyata mengalami pembengkakan di bagian usus dan adanya selaput di organ empedu yang harus dioperasi

Lalu apa hubungannya dengan dana darurat?

Saya baru menyadari satu hal yang penting untuk dipersiapan saat itu. Dana darurat.

Simpelnya dana darurat adalah dana yang disisihkan untuk kejadian yang tidak terduga, seperti kecelakaan, biaya rumah sakit, dan kasus-kasus lain yang membutuhkan dana secara mendesak serta tidak terencanakan.

Jujur saja, karena memang lagi pengen belajar investasi dan keuangan akhirnya separuh tabungan saya masuk di reksa dana.

Secepat-cepatnya mengambil uang di reksa dana pun juga perlu waktu. Berkisar 2-7 hari untuk pemindahan uang ke rekening. Sedangkan uangnya untuk pembayaran operasi mah tidak bisa nunggu sampe beberapa waktu.

Ingin meminjam uang ke saudara juga susah, orang di desa sedang masa sulit di tengah pandemi dan belum ada hasil panen. Hutang ke bank juga lama lagi. Mentok lagi harus jual sapi, itupun harganya bakal jatuh.

Dari sini saya menyadari bahwa menyiapkan uang untuk dana darurat lebih penting dari pada investasi.

Jika tabungan dana darurat saya sudah lumayan setidaknya bisa meminimalisir kejadian yang tidak terduga seperti tadi, bayar rumah sakit dadakan.

Jumlahnya berapa?

Kalau saya baca artikel finansial di internet. Nominal dana darurat ini bisa bervariasi. Tergantung gaya hidup, biaya bulanan, pendapatan ataupun tanggungan keluarga.

Namun, secara umum dapat ditarik kesimpulan, setidaknya bernilai tiga hingga enam bulan pengeluaran bulanan.

Misal pengeluarannya sebulan 2 juta, berarti menyimpan sebesar 6 hingga 12 juta untuk dana darurat.

Tetapi, jika dibandingkan dengan pengalaman harus mengeluarkan uang secara mendesak. Nominal yang ideal untuk dana darurat adalah 20 juta. Nominal ini cukup untuk membiayai biaya rumah sakit untuk operasi tingkat menengah.

Banyak?

Banget XD

Berarti ini yang jadi tugas saya selanjutnya, mengumpulkan dan menyisihkan sedikit demi sedikit uang untuk menyiapkan dana tersebut. Lebih baik lagi secara sadar menyiapkannya dari awal.

Featured Photo by Marek Studzinski on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *