Ini adalah buku Pak Keigo yang saya baca setelah mendengar kabar kepergianya.
Judulnya Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis.
Buku merupakan novel pertama dari series Detektif Kaga. Versi indonesianya terbit pada tahun 2020 dan bergenre CTM (Crime, Thriller, dan Mystery) — genre spesialisasinya Pak Keigo banget.
Series Deketif Kaga ini, sejujurnya saya justu malah sudah membaca buku keduanya lebih dahulu. Tapi tidak masalah juga sih. kedua bukunya tidak saling berkaitan secara langsung, jadi tetap nyaman untuk diikuti meskipun dibaca tidak sesuai urutan.
Untuk buku ini, saya relatif cepat membacanya, kurang dari seminggu. Faktornya tentu saja karena novel ini sangat seru dan menarik. Seseru apa? berikut review-nya.
⚠️ Warning, this content may contain spoilers!
Malice: Catatan Pembunuh Sang Novelis
Novel ini mengisahkan tentang Detektif Kaga Kyuichiro yang tengah menyelidiki kasus kematian seorang novelis ternama, Hidaka Kunihiko.
Hidaka ditemukan tewas di ruang kerjanya oleh sang istri dan sahabat karibnya. Polisi sempat mencurigai keduanya, tetapi keduanya memiliki alibi yang cukup kuat.
Bahkan sahabat Hidaka, Nonoguchi Osamu, yang kebetulan juga seorang penulis, dengan suka rela membantu kepolisian dengan menuliskan seluruh kronologi dan kejadian yang menimpa Hidaka sebelum kematiannya.

Namun, setelah penyelidikan berlangusung lebih jauh, satu per satu kebenarannya justru bertentangan dengan apa yang dituliskan oleh Nonoguchi. Dia telah memutar balikan semua fakta. Nonoguchi mengakui bahwa dialah yang telah membuhuh Hidaka.
Masalahnya, pengakuannya bukanlah akhir dari kasus ini.
Meskipun pengakuan dari Nonoguchi terkesan sempurna. Masih banyak kepingan puzzle yang belum terpecahkan. Banyak hal dalam cerita Nonoguchi terasa janggal. Termasuk motifnya untuk melakukan semua tindakan tersebut.
Di sinilah Detektif Kaga harus bekerja keras sekaligus berhati-hati untuk mengungkapkan semua kebenaran.
Dokumentasi dan Catatan Tokoh
Salah satu keunikan dari buku ini adalah dari cara penyampaiannya.
Cerita berasal dari sudut pandang orang pertama, tetapi ini disampaikan secara bergantian dari masing-masing tokoh dalam bentuk dokumentasi dan catatan. Dokumentasi dan catatannya disampaikan secara bergantian dari pov Detektif Kaga dan pov Nonoguchi.
Jadi, kita baru bisa menyimpulkan akhir dari kasus ini dengan melihat secara keseluruhan dari pov masing-masing tokoh.
Menurut saya ini cerdas sekali sih, dengan cara ini perlahan mempengaruhi pembaca dalam menilai masing-masing tokoh. Apalagi jika tokohnya punya durasi yang lebih panjang.
Contohnya:

Nonoguchi mendapakan porsi pov yang lebih banyak di awal cerita. Otomatis semua informasi untuk membangun opini tentang semua tokoh, baik Hidaka atau diri Nonoguchi sendiri, hanya berasal dari Nonoguchi.
Padahal ya belum tentu yang Nonoguchi sampaikan semuanya benar.
Jujur saya banyak kegocek diawal dan sepertinya Detektif Kaga juga sama, untung dia pinter dan sabar 😵
Hal yang sangat perlu dilakukan dalam membaca novel ini adalah tetaplah fokus. Jangan sampai meleng. Karena kalau engga fokus pasti akan banyak mis dalam memahami fakta-fakta yang ada dalam cerita.
Seperti yang saya jelaskan tadi, novel ini dibangun dari sudut pandang tokoh-tokohnya. Jadi pembaca tidak bisa hanya memahami “oh ini pelakunya…”, “ternyata motif pembunuhannya karena ini…”, “sepertinya masalah utamanya ini deh…”. Kita tidak bisa menerka-nerka hal tersebut.
Jalan satu-satunya untuk paham isi ceritanya adalah tetap fokus dan konsentrasi mengikuti alur yang ada.
Bukan sekedar kasus pembunuhan
Di bagian awal mendekati tengah novel sebenarnya kita sudah tahu siapa pembunuhnya, namun problemnya adalah apa motif yang dilakukan oleh pelaku.
Dan ternyata, mencari jawabannya ruwet sekali wkwk.
Salah satu tema utama yang diangkat dalam novel ini adalah bullying, terutama yang terjadi di lingkungan Hidaka dan Nonoguchi. Namun, tidak sesederhana itu juga penyelesaiannya.
Masalahnya issue yang diangkat tidak hanya ini saja. Ada isu lainnya juga, mulai dari dunia penerbitan dan proses pembuatan buku, kode etik penulis, plagiarisme, hingga perselingkuhan.
Belum lagi dinamika hubungan antartokohnya. Hubungan Nonoguchi dan Hidaka sendiri sudah cukup rumit, tetapi kemudian ada juga hubungan Nonoguchi dengan Detektif Kaga—yang ternyata pernah menjadi rekan kerja di masa lalu dan punya sejarah yang cukup complicated.
Keruwetan itu semakin kerasa ketika penyelesaian kasus.

Nonoguchi berhasil menyusun sebuah skenario yang begitu meyakinkan hingga dipercaya banyak orang. Di sisi lain, Kaga sendiri terjebak bias ketika menyelidiki kasus tersebut. Untungnya semua puzzle-puzzle yang ada bisa diselesaikan, meskipun memang berjalan dengan lambat.
Dari semua proses yang terjadi, saya jadi tahu sisi lain Detektif Kaga yang jauh berbeda dengan Yukawa Sensei dari series Detektif Galileo milik Pak Keigo.
Kalau Yukawa ini punya sifat yang lebih dingin, logis, dan analitis. Kaga ini adalah orang yang sangat humanis dan penuh kehati-hatian, sehingga ia tidak hanya melihat benar dan salah. Dia juga memahami orang-orang yang ada pada kasus tersebut.
Manusia memang suka ditipu
Seperti kata Natsuo Kirino, dalam halaman akhir buku ini:

“Tidak ada yang menganggap dokumentasi adalah kebenaran mutlak. Semua orang tahu bahwa ‘kebenaran’ dalam dokumentasi ditulis berdasarkan pandangan subjektif si penulis utama”.
Tapi, sayangnya manusia mudah ditipu. Mereka hanya mendengarkan dari apa yang dianggap olehnya menarik.
Seperti yang ada dalam novel Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis ini juga. Betapa mudahnya pandangan kita dibentuk oleh narasi yang terdengar paling meyakinkan, hanya karena argumen itu disampaikan oleh yang paling pandai bercerita. Padahal hal itu tidak sepenuhnya benar.
Sekian.


