Seruan buat boikot Unilever, tapi kenapa ga ada boikot Facebook atau sosmed lain?

Kalau ada isu LGBT dan kawan-kawannya di Indonesia pastinya jadi memanas, ngga cuma di Indonesia sebenarnya. Banyak masyarakat dunia juga tidak setuju dengan adanya kelompok ini, terutama negara dengan mayoritas Islam.

Lha ini, makin menjadi-jadi setelah akun Instagram official Unilever secara terang-terangan mengupload dukungannya terhadap LGBT+

Ramailah orang Indonesia (lagi) memenuhi kolom komentar dan seruan #boikotunilever.

Bagi saya, ya monggo silahkan boikot Unilever dan tidak menggunakan produk-produknya (padahal produknya juga bejibun), ngga masalah.

Yang bikin saya jadi agak kurang sreg dengan hal-hal seperti boikot-boikotan ini adalah teman-teman saya. Yang secara langsung menyuarakan aspirasinya melalui story WhatsApp.

Ya saya juga bukan pendukung LGBT, tapi juga ngga sampe segitunya. Apalagi kalau sudah ditambah dengan agama. Ngerasa ngga bener.

Mengajak orang untuk berhenti menggunakan produk tertentu yang mendukung gerakan LGBT, tapi tetep menggunakan produk dari perusahaan besar macam Facebook, Google, Twitter atau perusahaan gede lainnya yang juga terang-terangan mendukungnya.

Ga ada itu mereka teriak-teriak boikot Google? Padahal donasinya buat LGBT juga besar.

Intensi penggunaan produknya? jangan ditanya, hampir setiap hari kita pegang dan bahkan semua orang juga sudah ketergantungan.

Hehe, tapi orang muslim kan belum bisa bikin produk itu. Kalau sabun udah banyak yang bisa bikin XD

Note:

  • Tulisan ini dibuat karena saya rada kesel sama temen-temen saya
  • Sebenarnya pengen bahas yang lebih mendalam, entah kajian islamnya atau dari sudut pandang yang lain. Saya belum mencoba riset dan mengkaji lebih jauh. Okay, saya harus memahami lagi berarti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *