Kekerasan Seksual dan Perguruan Tinggi

Akhir-akhir ini hampir setiap saya membuka Twitter, topik trending dan kabar di timeline adalah mengenai kekerasan seksual. Apalagi kabar tidak mengenakan ini sering membawa nama institusi perguruan tinggi besar di Indonesia.

Sejejurnya, hal ini agak menciderai pandangan masyarakat terhadap akademisi di lingkungan perguruan tinggi. Tentunya kita menganggap bahwa perguruan tinggi isinya orang-orang berintelektual tinggi dan beradab, tapi kok ada yang begitu.

Saya awalnya tidak menyangka juga, tega sekali seorang pendidik melakukan hal tidak senonoh kepada anak didiknya. Namun, kenapa ya makin hari makin banyak yang mengadu.

Kalau diamati, laporan kasus kekerasan seksual di kampus ini makin kenceng semenjak digadangnya Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual dan ternyata kok malah ada pihak-pihak yang menolak.

Makin banyak korban yang berani bicara ke ruang publik (media sosial).

Bahkan, kalau kita merujuk pada survei Kemendikbud (2020), ada 77% dosen mengatakan bahwa kekerasan seksual pernah terjadi di kampus, dimana 63% di antaranya tidak melaporkan kejadian itu karena khawatir terhadap stigma negatif dari lingkungan.

Jadi ya, fenomena ini sebenarnya bak gunung es. Baru keliatan di puncaknya aja, kasus serupa yang underground masih banyak lagi.

Sayangnya kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi gini gampang banget ilangnya. Viral 2-3 minggu, setelah itu ending dari kasus ini malah senyap dan ngga ada kejelasan.

Faktor power dari pelaku sehingga korban akhirnya diam dan kampus juga ngga mau namanya jadi kurang baik akibat masalah tersebut.

Hal serupa juga terjadi zaman kuliah sarjana dulu, tahun 2017-2019, ada beberapa kasus kekerasan seksual yang jadi rame. Sampai saat ini pelaku dan kasusnya ya hilang begitu aja. Ngga tau sampai mana penyelesaiannya.


Isu kekerasan seksual di kalangan akademisi kampus mengingatkan saya kepada beberapa tokoh besar di bidang saya pelajari.

Salah duanya adalah kasus yang menyeret Richard Feynman dan Walter Lewin.

Dua orang yang sangat populer, bahkan jika kamu tidak belajar di jurusan fisika pasti sudah familiar dengan nama-nama tersebut.

Richard Feynman.

Fisikawan yang terkenal karena kelucuan dan mampu menyelesaikan persoalan rumit dalam fisika dengan cara unik.

Mendapatkan nobel fisika karena berhasil menyederhanakan persamaan rumit menjadi diagram yang lebih mudah dipahami (Feynman diagram). Berkat kecerdasan ia bahkan mampu memecahan misteri besar meledaknya pesawat ulang-alik Challenger.

surely youre joking mr Feynman

Dalam deretan prestasi yang gemilang, ternyata ada celah juga dari seorang Feynman.

Dalam buku autobiografinya, Surely You’re Joking, Mr. Feynman!, ada beberapa bagian yang menceritakan perilaku buruknya kepada perempuan.

Misalnya saat bekerja di dosen sering melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswa perempuannya. Seperti melukis model tanpa busana, mengajak mereka tidur bersama, atau mengajak mahasiswa bimbingan ke tempat yang ngga bener.

Walter Lewin.

Buat yang kurang familiar dengan namanya, silahkan simak video ini. Pasti sudah tidak asing lagi.

Ya. Bapak dalam video ini adalah Walter Lewin.

Dulunya adalah seorang dosen MIT yang sering ngajar fisika di Youtube dengan metode yang unik dan asyik.

Hampir mirip dengan Feynman, si bapak ini juga tersandung kasus pelecehan seksual kepada mahasiswa kelas onlinenya di MITx (sejenih online class-nya MIT). Beberapa murid kuliahnya medapatkan pesan tidak pantas saat mejalani kuliah.

Akibatnya MIT mencabut gelar profesor emeritus dan menghapus kuliahnya dari platform online tersebut.


Ungkapan tidak ada mamusia yang sempurna bisa jadi benar adanya.

Di balik kejeniusan tokoh yang bahkan mendapatkan nobel, bukti kontribusi besar terhadap ilmu pengetahuan, dan berperan mencerdaskan manusia lain ternyata juga ada sisi gelapnya juga.

…dan kejadian tidak mengenakan seperti ini juga miris ya.

Semua murid juga tentu menaruh rasa percaya kepada guru yang mendidik dan mengejar mereka. Datang ke kampus membawa harapan untuk medapatkan pengetahuan dan pengajaran di kampus / perguran tinggi.

Jadi, sudah selayaknya mendapatkan tempat yang nyaman dan aman untuk belajar.

Feature Photo by Verne Ho on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *