Berguru Metodologi Riset Dari Anak Kecil

Pembuka sebelum mulai fokus ngerjain riset tugas akhir di semester depan, saya ingin mengulas mata kuliah metodologi riset (penelitian) semester lalu.

Mata kuliah ini mengulik mengenai apa yang sebelum, saat, dan setelah usai melakukan suatu penelitian.

Ya walaupun agak kurang beruntung, ngga dapet nilai bagus, pas ngambil mata kuliah ini, setidaknya saya banyak pengetahuan baru seputar dunia riset dan publikasi.

Lalu saya menemukan sesuatu yang menarik di internet.

Ini.

metodologi riset

Dimana gambar ini bisa jadi mewakili apa yang saya pelajari selama mengambil mata kuliah tersebut.

Kurang lebih kalau dijelaskan sesuai dengan mata kuliah saya, begini isinya.

Cara melakukan metodologi riset ala anak kecil (bayi)

Petama, melakukan pengamatan.

Langkah pertama sebelum melakukan suatu riset atau penelitian adalah melakukan pengamatan. Pengamatan di sini artinya luas. Bisa dengan studi pustaka dari jurnal atau buku, melakukan survey, mengamati masalah di sekitar, dan masih banyak lagi.

Dari pengamatan ini biasanya nanti muncul insight menarik yang dapat dikembangkan untuk penelitian yang akan dibuat. Buat catatan hasil observasi yang telah dilakukan.

Kemudian mulai juga mempertimbangkan ketersediaan bahan dan alat apa saja yang diperlukan, seberapa lama penelitian, hingga perkiraan budget yang perlu dikeluarkan.

Kedua, membuat hipotesis

Setelah melakukan observasi, idealnya kita sudah mendapatkan informasi dan gambaran umum dari riset yang akan dilakukan.

Mulailah membuat hipotesis.

Gampangnya hipotesis adalah membuat tebakan dari apa yang akan kita lakukan. Tentunya dugaan ini ngga cuma asal nebak, melainkan harus berdasar kepada dasar (teori) yang ada. Namun, hipotesis ini belum tentuk benar secara mutlak– namanya juga baru dugaan kan.

Oh iya, ini ada artikel bagus mengenai hipotesis penelitian.

See also  Learning English 101

Ketiga, melakukan penelitian

Tahap penting dari suatu penelitian adalah melakukan penelitian itu sendiri. Biasanya tiap bidang memiliki jenis penelitian yang berbeda-beda tergantung bidang yang sedang digeluti.

Dalam fisika contohnya. Riset bisa dalam bentuk eksperimen di laboratorium, komputasional dengan menggunakan perangkat komputer, atau teoritis menggunakan analisis matematika.

Riset di bidang sosial atau hukum bisa jadi kasus dan ruang penelitian bakal beda jauh lagi caranya.

Keempat, analisis data

Proses analisis data ini berfungsi untuk mengubah kumpulan data yang sudah didapat menajadi hasil wawasan yang lebih bermakna.

Dari hasil ini biasanya kita akan menemukan pola-pola tertentu dari penelitian yang kita dapat dan selama proses analisis dilakukan verifikasi terhadap hipotesis yang dibuat di awal.

Dalam banyak kasus, dalam penelitian mungkin ditemukan hasil eksperimen tidak mendukung hipotesis awal. Biasanya hal ini dapat dijadikan opsi lain atau saran yang harus dieksplorasi dalam studi masa depan.

Kelima, membuat pelaporan dari hasil temuan

Setelah melakukan riset atau penelitian, kita akan memasuki satu langah yang bisa dibilang ini paling menguras pikiran, yaitu menganalisis dan menulis hasil penelitian.

Tak bedanya membuat sebuah alur cerita novel, menulis laporan ini juga sama aja.

Sehingga kita harus sepenuh hati mencurahkan hasil pemikiran, hasil analisis data, dan meramunya sedemikian rupa hingga menjadi sebuah laporan yang menarik untuk dibaca orang lain.

Keenam, mengajak orang lain untuk membuat ulang hasilnya

Tujuan akhir dari hasil riset atau publikasi yang kita lakukan adalah mengajak orang lain untuk menggunakan hasil yang kita dapat.

Sehingga setelah laporan riset dibuat akan dilakukan publikasi atau penyampaian hasil riset tersebut. Publikasi bisa dilakukan di makalah, seminar, atau buku.

See also  Contoh Laporan Akhir dan Artikel Ilmiah PKM Gagasan Futuristik Konstruktif (PKM GFK 2019)

Agar makin banyak orang yang membaca atau menggunakan ulang tulisan, peneliti mencari publisher jurnal dengan indeks yang bagus.


Demikian rangkuman kuliah metodologi riset saya selama satu semester kemarin, yang nyatanya kita bisa belajar juga dari seorang anak bayi dalam memahaminya.

Featured Photo by National Cancer Institute on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *