Mencoba Terbuka dengan Orang Tua.

Problem yang cukup memusingkan dari dulu adalah perihal ke terbuka an dengan orang tua.

Mungkin tidak di level yang parah banget, hanya saja untuk topik-topik yang menurut saya privacy, semisal cinta ataupun keuangan ini ngga akan diomongin bareng keluarga.

Sejujurnya juga ingin seperti teman-teman yang lain, nampaknya sangat mudah untuk berbicara masalah privacy mereka dengan keluarga. Langsung blak-blakan ngomongin cinta ataupun gaji, seperti ngomong dengan sahabat sendiri.

Kenapa bisa tertutup dengan mereka?

Kalau dirunut, kurang nyadar sendari kapan mulai ngga bisa terbuka dengan orang tua. Jika melihat masa lalu yang saya alami sendari kecil, mungkin beberapa fakor ini yang memengaruhi.

1. Sering dimarahi

Yang ku lihat, komunikasi yang dilakukan oleh ibuk-bapak dengan saya (atau pun adek) masih belum bagus.

Terlebih emang agak main tangan, misal di cubit, di jewer, tambah lagi belum dimarahin. Dulu saat main ke rumah teman juga sering dilarang.

Faktor tinggal di desa dan tingkat pendidikan yang kurang bisa jadi penyebabnya, belum ada insisatif atau pemikiran apakah sikap yang demikian akan berdampak seperti apa terhadap perkembangan anak.

2. Takut mereka memiliki prinsip yang jauh berbeda

Kalau kata orang, adanya gap pendidikan itu ngga akan mempengaruhi komunikasi menurut ku itu salah.

Di keluarga, rasanya gap ini benar-benar terasa. Beda pemikiran, pengambilan sudut pandang, pola komunikasi juga beda.

Apalagi karena udah 8 tahun hidup di luar kota. Alhasil mikirnya juga beda.

Makanya dari pada bikin orang tua marah ataupun sedih karena pemikirannya dengan saya berbeda, yaudah diem aja :’. Terutama terhadap hal-hal yang kiranya cukup menyingung dan membuat mereka kecewa.

3. Membatasi diri untuk hal yang privacy

Tipe keluarga yang gampang cerita keorang-orang, dan lingkungan yang sering nyebarin informasi apa aja emang bikin males ngomong.

Alhasil lebih baik membatasi diri dalam hal privacy seakan-akan membangun dinding pembatas dengan dunia luar.

Baik, cuman juga kadang kebablasan membatasinya sampe semua hal ngga pernah diomongin XD

Mencoba bicara

Beberapa waktu kemarin, saya menyempatkan ngobrol dengan ibuk terkait masalah gaji. Karena merasa ini penting diomongkan mengingat kondisi finansial keluarga lagi ngga cukup baik dan posisi bakal di rumah lama.

Hasilnya?

Sebelum ngomong udah campur aduk dan deg-degan, nyari waktu ngomongnya pun susah.

Setelah ngomong banyak dan nyebutin nominal gaji, sepertinya ibuk sedikit kaget. Ngerti jumlah gaji anaknya sudah cukup buat hidup 3 bulan di desa. Selain itu, terharu juga rasanya, melihat ibuk matanya berkaca-kaca, tetapi saya tahu ibuk sedang bahagia.

Ditambah lagi sekarang di rumah udah jarang bahkan ga pernah dimarahin. Padahal sebelum-sebelumnya selalu jadi korban marah-marah ibuk XD

Bangun kesiangan dimarahin, ga masak dimarahin, kebanyakan main laptop dimarahin, tidur kemalaman dimarahin, ngga mandi dimarahin, tapi sekarang udah loss doll wkwk

Alhamdulillah.

Btw, Ku juga ga pengen gini terus, karena jujur ngga enak. Mau apa-apa susah, ngelakuin apa-apa juga jadi ngerasa ada bayang-bayang diawasi dan khawatir.

Pelan-pelan membuka diri.

Seseorang yang paling dekat dengan kita, ternyata adalah yang paling jauh dari diri kita.

Noted:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *