Kunci Perubahan Iklim adalah Perempuan

Semua orang tentunya sudah tahu apa itu perubahan iklim dan dampaknya bagi manusia serta planet Bumi secara keseluruhan. Saya tidak akan menjelaskan secara mendalam dalam tulisan ini.

Melihat beberapa tahun kebelakang, isu perubahan iklim telah sering disampaikan oleh aktivis lingkungan dan pemerintah. Menariknya lagi di tahun ini, riset terkait topik perubahan iklim ini berhasil mengantongi hadiah nobel Fisika.

Hal ini menjadi semacam “alarm” bagi kita agar lebih giat lagi menyuarakan dan mencari solusi efektif dari isu perubahan iklim dan pemanasan global di planet Bumi.


Berbicara tentang solusi paling efektif mengatasi perubahan iklim, hal pertama yang terlintas dalam benak kita adalah solusi semacam beralih ke energi terbarukan, menggunakan kendaraan listrik, atau mengganti protein hewani dengan bahan sintetis.

Hal tersebut tentu saja bisa dilakukan. Namun, sembari mengembangkan inovasi semacam itu, ternyata ada solusi efektif lainnya yang kurang diperhatikan dengan baik.

Yaitu, memberikan pendidikan yang baik untuk wanita dan anak perempuan.

Solusi yang mampu mengentaskan isu ketidaksetaraan gender di masa ini, membangun ketahanan terhadap perubahan iklim, serta mengurangi emisi karbon dioksida dalam saat yang bersamaan.

Perempuan paling menderita karena dampak perubahan iklim

Perubahan iklim mendorong terjadinya perubahan cuaca dengan sangat cepat. Fenomena ini kemudian dipercepat oleh pertumbuhan manusia dan banyaknya aktivitas yang dilakukan manusia.

Dampaknya sudah jelas kita rasakan.

Musim kemarau berkepanjangan, curah hujan tinggi, berkurangnya sumber air, hingga terjadi banyak bencana alam. Dampak ini juga sering menimbulkan banyaknya korban jiwa dan perempuanlah yang paling banyak menderita karenanya,

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP), perempuan memiliki risiko 14 kali lebih tinggi menjadi korban bencana dibanding pria dewasa.

Hal ini dikarenakan perempuan kurang mendapatkan pendidikan dan pengetahuan mitigasi bencana, serta cenderung mengabaikan keselamatan dirinya untuk menyelamatkan anggota keluarga lain.

Belum lagi ditambah kondisi pasca terjadinya bencana alam. Perempuan seringkali tidak mendapatkan kehidupan yang layak karena cenderung memiliki pendidikan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki dan kurangnya keterampilan.

Pendidikan perempuan yang baik mampu memperkuat stategi iklim

Pendidikan pada perempuan dan anak perempuan dapat memperkuat stategi iklim dengan tiga cara:

  • Membuat perempuan lebih peduli terhadap kesehatan reproduksinya
  • Membuat perempuan memiliki keterampilan yang dapat berdaya dan mampu memilih produk yang lebih ramah lingkungan
  • Perempuan dapat berkontribusi dan mampu mengambil kebijakan yang pro-lingkungan di ranah yang lebih luas.

Kenapa hal tersebut bisa mengatasi perubahan iklim?

Pendidikan memberikan pemahaman yang baik bagi perempuan untuk peduli terhadap kesehatan dan hak reproduksinya.

Memungkinkan perempuan untuk menentukan berapa banyak anak yang dilahirkan dan meminimalisir terjadinya pernikahan dini serta kematian ibu dan anak selama melahirkan.

Wanita dengan pemahaman pendidikan yang baik juga akan cenderung memiliki keluarga yang lebih sehat dan lebih kecil, dengan jumlah keluarga yang sedikit akan mengurangi angka emisi karbon dioksida.

dampak populasi terhadap perubahan iklim

Di lingkungan keluarga perempuan dengan pendidikan yang baik juga memiliki daya untuk memilih dan menentukan produk yang akan digunakan, tentunya dengan mempertimbangkan dampaknya bagi lingkungan.


Lebih jauh lagi, dampak dari perempuan yang didukung oleh pendidikan yang baik dapat berperan dalam sistem masyarakat yang lebih besar.

Seperti memberdayakan komunitas di lingkungan tempat tinggal dan bahkan dapat berperan dalam pengambilan kebijakan yang lebih pro-lingkungan dengan mempertimbangkan kondisi perempuan di masyarakat.

Anak perempuan yang tengah bersekolah juga dapat tumbuh menjadi pemimpin bagi teman-teman di sekolahnya bahkan mempengaruhi banyak orang di dunia.

Seperti halnya Greta Thunberg, remaja perempuan berusia 15 tahun asal Swedia, yang mampu mengerakan lebih dari 1.6 juta siswa lain dari 125 negara di dunia lewat aksi kecaman terhadap dampak perubahan iklim.

Membangun pondasi pendidikan untuk perempuan

Tentunya akan sangat mengembirakan jika ada sosok-sosok perempuan seperti Greta Thunberg di sekitar kita.

Salah satu cara efektif memberikan pendidikan kepada perempuan adalah melalui jalur pendidikan formal melalui kurikulum sekolah. Materi perubahan iklim dan mitigasi bencana dapat diperkenalkan juga melalui muatan lokal, misalnya melalui materi bahasa & kebudayaan daerah.

Namun apakah hanya terbatas pelajaran di sekolah saja?

Tentu saja tidak, dalam belajar tidak ada batas tertentu yang dapat kita lakukan. Walaupun, sudah tidak menempuh pendidikan formal kita juga terus belajar memperkaya pengetahuan dari berbagai sumber lainnya.

Tak harus menunggu hal besar, mulailah dari hal kecil. Dari kebiasaan rutin yang terbiasa kita melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mencoba banyak mempelajari isu lingkungan melalui hobi yang saya senangi, yaitu membaca buku dan artikel di internet.

Buku tentang perempuan dan perubahan iklim

Membaca buku terutama buku-buku tentang sains dan lingkungan, menyadarkan saya agar lebih peduli dan sadar akan pentingnya perilaku yang lebih hemat lingkungan. Dengan memulai aktivitas yang dekat dengan saya sehari-hari, seperti:

  • Menggurangi penggunaan single use plastics
  • Menggunakan kantong kain saat belanja
  • Lebih berhemat dalam menggunakan listrik dan air
  • Menggurangi pembelian pakaian dan belanja online

Dari hanya sekedar membaca buku dan tulisan, saya rasa ada suatu panggilan diri untuk #TimeforActionIndonesia.

Akhirnya mulai merambah mengembangkan media edukasi sains bersama kawan sejawat untuk berbagi pengetahuan melalui sosial media dan tulisan agar menjagkau lebih banyak orang.

perubahan iklim
Saya dan teman-teman membangun media edukasi sains agar makin banyak masyarakat yang peduli tentang sians dan lingkungan. Silahkan kunjungi instagram dan websitenya ya.

Lalu dari situ juga memberikan dorongan untuk mengadakan acara dengan menggandeng banyak #MudaMudiBumi lainnya, mulai komunitas peduli lingkungan, pakar lingkungan dan mahasiswa.

Dampak yang lebih luas lagi…

Anak muda Indonesia diharapkan terus berkarya dan membawa perubahan tak hanya untuk diri sendiri tetapi juga lingkungannya.

Di momen mendekati sumpah pemuda tahun ini, sebagai kaum penerus bangsa dan seorang perempuan saya juga tidak ingin ketinggalan untuk memainkan peran penting bagi negara ini.

….dan inilah sumpah pemuda versi saya.

Sehingga makin banyak perempuan yang teredukasi dan bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam, serta tentunya dapat berkontribusi dalam menyelamatkan bumi kita tercinta ini, #UntukmuBumiku.

Referensi

Featured Image by Callum Shaw on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *